February 21, 2024

Film kartun memang identic sebagai film anak-anak, tetapi tahukah Anda bahwa tak semua film animasi ideal disaksikan anak-anak pra sekolah atau usia 4 tahun ke bawah. Hal ini diungkap dalam studi yang bertajuk The Immediate Impact of Different Types of Television on Young Children’s Executive Function, yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.Dampak menonton film kartun tertentu pada anak berumur 4 tahun ternyata mempengaruhi beberapa kapabilitasnya yaitu focus, mencari solusi suatu masalah, serta memusatkan perhatikan.Berikut ulasannya.

 

Mengulas penelitian tentang efek film kartun bagi anak pra sekolah

Penelitian ini dilakukan dengan menjadikan film kartun SpongeBob Squarepants dan tayangan bermuatan edukasi berjudul Caillou sebagai obyek.Ditemukan hasil bahwa anak-anak yang menyaksikan kartun dengan alur adegan lambat ternyata lebih mampu untuk berkonsentrasi serta mengontrol dirinya.Hal ini sayangnya tak dijumpai pada kartun SpongeBob yang pergantian adegannya terjadi dengan jeda hanya 11 detik.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari riset ini adalah dengan menonton kartun televise beradegan cepat selama 9 menit saja akan memberi dampak negative pada fungsi otak eksekutif anak berumur 4 tahun secara langsung. Perubahan adegan yang terlalu cepat kurang cocok untuk perkembangan anak berusia dini.Jadi sebenarnya kebiasaan menonton televisi tak memicu gangguang perilaku asalkan orangtua dapat memilih dengan bijak jenis tontonan bagi buah hatinya.

 

Penelitian tentang dampak kartun berkonten kekerasan pada anak

Pada penelitian lainnya yang bertajuk Modifying Media Content for Preschool Children: A Randomized Controlled Trial yang juga dipublikasikan pada jurnal Pediatric menemukan fakta bahwa film kartun yang menayangkan konten kekerasan serta pro-sosial memiliki dampak besarpada anak-anak yang berusia masih sangat muda.Para ilmuan melakukan riset ini pada sekitar 500 keluarga dengan anak-anak berumur antara 3 sampai 5 tahun yang setiap hari menonton televisi selama 4 jam.

 

Keluarga yang menjadi obyek riset tersebut lalu dibagi secara random menjadi grup control serta grup intervensi. Keluarga yang termasuk dalam grup control anak-anaknya menyaksikan film kartun di TV seperti biasanya, termasuk Scooby Doo dan Road Runner yang sarat adegan kekerasan.

 

Sementara kelompok keluarga yang termasuk grup intervensi direkomendasikan untuk menyaksikan animasi bermuatan pendidikan serta pro social, misalnya Curious George atau Dora the Explorer.Riset ini dilangsungkan selama 6 bulan dan para keluarga tersebut dimonitoring secara ketat dengan kunjungan ke rumah.

 

Orangtua juga diwajibkan mengisi kuisioner tentang tindak-tanduk buah hati mereka.Salah satu pertanyaan dalam kuesioner adalah apakah anak-anak melakukan tindakan seperti menghancurkan barang, melakukan bullying, berteriak kepada orang lain, atau mendorong. Tindakan-tindakan tersebut adalah permulaan dari perilaku agresif yang bisa terjadi di masa depan.

 

Yang mengejutkan ternyata selain tingkah laku yang dinilai nakal, beberapa hal yang positif juga terjadi, yaitu kesediaan untuk berbagi, bekerjasama, sensitive terhadap kesulitan orang lain, dan sejenisnya.Hal ini terjadi kepada anak-anak yang termasuk dalam kelompok intervensi.

Setelah enam bulan, anak-anak berusia dini yang terbiasa menyaksikan kartun pro social dan bermuatan edukatif mengalami perubahan menjadi lebih ramah.Sebaliknya, mereka yang akrab dengan tontonan dengan konten kekerasan memperlihatkan tanda-tanda awal agresifitas.

 

Dari penelitian ini para ilmuan menyimpulkan bahwa perangai anak-anak bisa terbentuk dari hal-hal yang mereka saksikan, termasuk dari media.Tindakan anak-anak juga identic dengan situasi yang mereka lihat, termasuk konten kekerasan.Alasannya saat menyaksikan ini slot via dana sekelompok neuron menjadi aktif secara berbarengan dalam system syaraf pusat. Akhirnya anak menyimpulkan bahwa kekerasan merupakan suatu solusi masalah dan pengetahuan ini akan terekam dalam system syaraf pusat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *